Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Filmografi
Judul Film : Doea tanda mata
Sutradara : Teguh Karya
Produser : Budi Prakoso
Pemeran_utama : Jenny rachman; Alex Komang
Pemeran_pembantu : Sylvia Widiantono; Piet Pagau; Henky Solaiman; Hermin Centhini; Eka gandara; Corbi; Benny Benhardi; Bambang BS; Zainal Abidin Domba; Umar Chattab; Aria Kusuma Dewa
Keterangan : Jakarta : PT Citra Jaya Film, 1984
Deskripsi_fisik : Film berwarna; durasi 118 menit
Media : Film layar lebar
Subjek : Drama
Bahasa : Indonesia
Penulis_skenario : Teguh Karya; Alex Komang
Penulis_cerita : Teguh Karya; Alex Komang
Penata_artistik : Satari SK
Penata_suara : Zakaria rasyid
Penata_musik : Idris Sardi
Penata_foto : George Kamarullah
Penyunting : Rizar Asmar
Soundtrack : [ Tidak dicantumkan ]
Judul_lain : [ Tidak dicantumkan ]
Catatan : Penghargaan 1985
  • Pemenang pada Festival Film Indonesia dalam kategori: Pemeran Utama Pria Terbaik
  • Pemenang pada Festival Film Indonesia dakam kategori: Tata Kamera Terbaik 
  • Pemenang pada Festival Film Indonesia dalam kategori: Tata Artistik Terbaik
  • Pemenang pada Festival Film Indonesia, Indonesia dalam kategori: Tata Musik Terbaik 
  • Pemenang pada Festival Film Indonesia, Indonesia dalam kategori: Pendisain Poster Terbaik

Penghargaan 1986

  • Pemenang pada Asia Pacific Film Festival dalam kategori: Film Terbaik
  • Pemenang pada Asia Pacific Film Festival dalam kategori: Fotografi Terbaik

Untuk 17 tahun keatas

Dirilis tahun 1984

Sumber :

Katalog Film Indonesia 1926-1995 / JB Kristanto.-- Jakarta: Grafiasari Mukti, 1995

http://filmindonesia.or.id/movie/title/award/lf-d013-84-564301/doea-tanda-mata

Gunadi (Alex Komang), pemuda Klaten yang baru kawin setahun terbius oleh gerakan perlawanan di tahun 30 an. Ia tinggalkan istrinya yang menjadi guru, dan bergabung dengan kelompok pergerakan bawah tanah dengan mencetak selebaran-selebaran gelap. Di percetakan yang merangkap panggung hiburan, ia berkenalan dengan Ining (Jenny Rachman). Ining tampak jatuh hati pada Gunadi. Tidak jelas bagaimana sikap Gunadi. Yang jelas ia kemudian bentrok dengan kelompoknya, karena tidak bisa mengendalikan diri saat sahabatnya dan adik Ining mati ditembak Belanda ketika membonceng dirinya dengan sepeda motor. Peristiwa inilah yang terus menghantuinya hingga sering bertindak nekad. Dan dendam itu pula yang membuat dia berusaha mendekati komisaris polisi yang dianggapnya mendalangi kematian sahabatnya itu. Lewat Ining yang juga ingin membunuh komisaris itu dengan menjadi gundiknya, Gunadi diterima jadi sopir, hingga Gunadi bisa menembak mati sang komisaris. Sementara kawan-kawan sepergerakan yang terus mencurigai Gunadi, justru menembak lelaki yang digambarkan sebagai peragu juga itu. Maka terlontarlah teriakan Ining yang bisa juga dianggap suara sutradara , betapa picik dan kerdil semua mereka itu

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia