KEINGINAN para sineas muda Indonesia yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI), di antaranya Riri Riza, Shanty, dan Nia Dinata, agar Lembaga Sensor Film (LSF) dihapuskan melalui permohonan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi tampaknya sulit diwujudkan. Pasalnya, tersebut mendapat tentangan dari Pemerintah, DPR, serta pihak-pihak terkait seperti LSF, Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), dan Persatuan Artis Sinetron Indonesia (PARSI).
Mewakili LSF Titi Said mengatakan, ia merasa aneh mengapa keberadaan LSF digugat. "Kenapa bukannya sineas yang membuat film dengan menampilkan seks vulgar dan adegan-adegan menyinggung SARA? Banyak yang menyampaikan pesan kepada LSF kalau kami menggunting kurang tajam. Banyak ibu-ibu yang memprotes kepada LSF kalau penyensoran sinetron dan film masih kurang tajam. Pertanyaan saya, akan seperti apa jika film, sinetron, dan sebagainya tanpa disensor," katanya di sela-sela sidang di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Keprihatinan yang sama dilontarkan Ketua Umum PARSI Anwar Fuady yang mengaku tak bisa membayangkan apa yang terjadi apabila tak ada lembaga sensor. "Sulit membayangkan kalau tak ada sensor. Jadi seperti apa nantinya pemuda Indonesia? Kita setiap hari telanjang, tapi telanjang di kamar sendiri bukan untuk ditonton umum. Mungkin setiap hari kita bercinta dengan istri kita, tapi bukan untuk jadi tontonan. Kalau itu dipertontonkan akan seperti apa?" katanya. (Fei)